GenBI Purwokerto

Crypto Art: Karya Seni Digital Dalam Bentuk Non-Fungible Tokens (NFT) Sebagai Aset Digital Yang Menjanjikan

Akhir-akhir ini, perkembangan Non-Fungible Tokens (NFT) mulai menjadi perbincangan publik, walaupun di Indonesia sendiri trend tersebut masih belum dikenal secara luas oleh masyarkat Indonesia. Hadirnya NFT memberikan ruang untuk membuka bisnis baru dalam bentuk aset digital, selain itu bisa menjangkau pasar yang lebih luas. NFT merupakan aset digital yang dapat menunjukan kepemilikan suatu karya digital maupun fisik seperti karya seni, barang, game, bahkan musik. Sama halnya dengan aset-aset pada umumnya, harga NFT terbentuk melalui mekanisme pasar tergantung dari tingkat permintaan dan penawaran.

Munculnya NFT juga menghadirkan Crypto Art. Menurut Jason Bailey dari Artnome menjelaskan bahwa crypto art atau seni kripto merupakan karya seni digital langka (rare) yang dikaitkan pada token unik (NFT) yang ada di Blockchain. Layaknya sebuah sertifikat hak milik suatu karya keasliannya dapat dibuktikan secara sah dan tidak dapat diduplikasi. Hal tersebut menjadi solusi dari permasalah pembajakan atau pemalsuan karya kreatif pada masa kini. Kita dapat mengunduh gambar ribuan bahkan jutaan kali, tetapi semua itu tidak berhaga karena tidak memiliki versi yang terkait NFT dan memverifikasi kepemilikan dari karya tersebut. Pada dasarnya, NFT seperti barang kolektor fisik, hanya saja digital. 

Marketplace crypto art menjadi wadah bagi seniman untuk mendistribusikan karyanya kepada kolektor serta memberika kepemilikan yang aman. Beberapa marketplace yang dapat kita akses saat ini adalah SuperRare, AsyncArt, Open Sea, ArtOlin dan masih banyak lagi. Selain itu, guna memaksimalkan konsumen untuk menikmati suatu karya seni terdapat ruang pameran yang dapat diakses menggunakan Virtual Reality (VR) seperti Decentraland dan Cryptovoxels.

Menurut 101Blockchains.com, NFT termahal melekat pada karya Beeple yang diberi nama “Everydays: the First 5000 Days” terjual dengan harga $ 69,3 Juta oleh Vignesh “Metakovan” Sundaresan di rumah lelang Christie. Karya sini ini merupakan kompilasi 5000 seni digital pertama Beeple.

Benyamin Ahmed seorang anak berusia 12 tahun dari London, menciptakan karya digital pixelated yang disebut Weird Whales mendapatakan 290 poundsterling setara dengan 5,7 miliar rupiah. Berkreasi memang tidak memandang batas usia, siapa saja bisa memulai membuat karyanya. Selain Ahmed, ada juga anak yang berusia 14 tahun bernama Erin Beesley membuat karya yang kemudian ia daftarkan di platform SuperRare dan berhasil memperoleh 14 ETH setara dengan $50.000.

Hal menarik yang perlu kita ketahui tentang Crypto Art adalah bahwa seniman selalu mempertahankan hak cipta dan mendapatkan royaltinya disetiap penjualan di Marketplace. Berbeda ketika, kita memposting sebuah karya ke Instagram, orang dengan bebas menggunakan karya tersebut tanpa meminta izin, bahkan dapat mengedit dan memodifikasi karya, lebih parahnya lagi menjualnya langsung. 

Melihat potensi yang besar itu, sangat disayangkan jika para seniman tanah air tidak ikut terjun kedalam dunia crypto art. Seniman harus beradaptasi dengan pemasaran berbasis inovasi digital ini. Bagaimana tidak menjanjikan, transaksi NFT global di Q1 2021 tercata lebih dari $2 Miliar dan mengalami peningkatan signifikan sekitar 2.100% dari Q4 2020. NFT yang sudah terdaftar akan memudahkan seniman dalam penjualan karyanya dan memperoleh nilai jual yang stabil sesuai dengan otentikasi karya yang dimiliki. Crypto art bisa dibilang juga sebagai salah satu instrumen investasi. Jadi, alih-alih harus memiliki perusahaan yang go-public, seniman bisa menjadi sesuatu yang diinvestasikan dengan karyanya.

Terlepas dari nilai yang kita peroleh dari crypto art, ada kelemahan terbesar crypto art (hal ini juga berlaku pada jenis crypto lainnya) yang perlu kita khawatirkan saat ini yaitu penggunaan energi yang tidak efisien. Konsumsi daya rata-rata dalam satu transaksi sekitar 48kWH energi atau setara dengan penggunaan energi 2-3 hari untuk rumah tangga Australia. Energi yang besar tersebut diperlukan karena adanya proses “mining” (penambangan). Penambangan merupakan proses pemecahan teka-teki matematika yang berkaitan dengan enskripsi menggunakan komputer, semua itu membutuhkan listrik. Sebenarnya ada beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk mengurangi kerusakan seperti menggunakan energi terbarukan, namun masih belum bisa menghilangkan fakta bahwa proses penambangan menggunakan energi yang besar.

Referensi:

  1. 101blockchains.com (2021) List Of 10 Most Expensive NFTs Ever Sold
  2. Jeffrey Taylor & Kelsey Sloane (2021) Art Markets without Art, Art without Objects
  3. Kateryna Zharan & Jan C. Bongaerts (2017) Decision-making on the integration of renewable energy in the mining industry: A case studies analysis, a cost analysis and a SWOT analysis
  4. Lawrence J. Trautman (2021) Virtual Art And Non-Fungible Tokens
  5. schoolofmotion.com (2021) What is Crypto Art and Why Should Motion Designers Care
  6. theguardian.com (2021) What is cryptoart, how much does it cost and can you hang it on your wall?
  7. Науковий керівник (2021) Development Of Cryptoart As A Modern Method Of Monetization Of Art And Copyright Protection

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *