GenBI Purwokerto

DI BALIK EFISIEN DAN EFEKTIFNYA MULTITASKING

Kata multitasking sudah tidak asing lagi bagi kita, sebagian besar diantara kita pasti sering juga melakukannya. Multitasking sendiri ialah mengerjakan banyak hal yang tidak berhubungan dalam waktu yang bersamaan atau beralih dari satu tugas ke tugas yang lain dalam waktu yang singkat. Tanpa kita sadari pasti kita pernah melakukannya bukan? terutama anak- anak milenial yang banyak menghabiskan waktunya di depan komputer dan ponsel. Sambil membuka komputer dan ponsel untuk mengerjakan tugas, semua hal yang berhubungan dengan internet bisa juga dilakukan misalnya membalas chat, menonton youtube, surfing website dan lain sebagainya. Multitasking ini seringkali dilakukan untuk tujuan efektif dan efisiensi waktu maupun tenaga, dengan mengerjakan pekerjaan yang harusnya diselesaikan dalam waktu yang lama bisa diringkas dan dikerjakan dalam satu waktu saja. Namun sebenarnya hal tersebut tidak dapat membuat seseorang menjadi lebih produktif. Terkadang kita juga merasakan multitasking ini justru berkebalikan, akan lebih menguras tenaga dan juga terkadang mengurangi kualitas dari pekerjaan yang kita lakukan. 

Menurut para ilmuwan, psikolog, dan pakar spesialis otak menyatakan bahwa sebenarnya otak kita tidak dapat memusatkan perhatian pada lebih dari dua hal atau pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Menurut Earl Miller dari Massachusetts Institute Of Technology juga mengatakan bahwa, otak kita tidak bisa melakukan multitasking dengan baik karena memang tidak dirancang untuk itu. Otak kita mengalami dua proses, yang pertama tentunya akan memilih pekerjaan mana yang akan dikerjaan lebih dulu dan yang kedua otak kita akan berpikir bagaimana cara melakukaknnya. Saat sedang melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu atau multitasking ini, otak akan bekerja lebih keras untuk fokus dan berkonsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaan. Namun ketika otak sudah mulai lelah, apa yang terjadi? Kemampuan dan daya konsentrasi serta fokus akan terganggu dan akibatnya pekerjaan pun tidak akan maksimal bahkan bisa mengakibatkan banyak kesalahan yang tidak diinginkan. Selain itu multitasking juga bisa mengakibatkan bahaya, seperti ketika mengendarai kendaraan sambil bermain ponsel maka akan mengurangi fokus kita hingga hal tersebut dapat mengakibatkan kecelakaan. Multitasking ini pun dapat memicu stress hingga depresi karena menumpuknya informasi yang diterima oleh otak, dapat menimbulkan rasa cemas, serta meningkatkan tekanan darah karena jantung dan tubuh akan bekerja lebih ekstra. Ada sebuah penelitian juga yang menyatakan bahwa multitasking bisa mengakibatkan gangguan pada ingatan jangka pendek dan jangka panjang terkait pekerjaan (working memory). 

Memang multitasking ini sulit untuk dipisahkan dari kebiasaan anak- anak milenial. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kebiasaan ini tetap dilakukan misalnya ketika mahasiswa sedang di dalam kelas mendengarkan penjelasan dari dosen atau professor seringkali kita juga mengecek ponsel kita, membalas chat teman atau melihat media sosial. Semua aktivitas tersebut membutuhkan dan menggunakan bagian otak yang sama yaitu prefrontal cortex. Jika semua aktivitas dilakukan di waktu yang bersamaan maka otak kita akan berebut dan bekerja dengan keras dari sebelumnya. Manusia sebenarnya tidak bisa melakukan multitasking. Sebenarnya yang dilakukan oleh kebanyakan dari kita adalah switching yang berarti berpindah- pindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Kebiasaan ini selain memperlambat aktivitas kita hingga sebesar 40% juga dapat membawa dampak yang buruk bagi otak kita. Berdasarkan riset dari University of Sussex menyebutkan bahwa brain density di bagian anterior cingulate cortexnya lebih kecil dibandingkan dengan orang- orang yang jarang melakukan kebiasaan tersebut. Di bagian otak ini juga berperan penting untuk kemampuan berpikir, empati, dan mengontrol emosi kita. Kebiasaan multitasking atau swiching ini juga dapat menurunkan IQ kita hingga 10- 15 poin. 

Dengan mengetahui apa- apa yang ada di balik efisien dan efektifnya multitasking ini, lebih baik kita fokus atau melakukan sesuatu dengan singletasking. Dengan berfokus pada satu hal atau pekerjaan dalam satu waktu maka pekerjaan yang kita lakukan akan jauh lebih berkualitas. Memang melakukan singletasking ini juga merupakan hal yang sulit dilakukan oleh kita karena sifat manusia yang cenderung lebih cepat bosan. Dan sebaiknya mindset yang harus kita tanamkan pada diri kita adalah bukan pekerjaan apa yang bisa kita lakukan, tetapi pekerjaan apa yang harus kita lakukan. Agar bisa fokus pada satu hal atau pekerjaan bisa dilakukan dengan: 1.) Bisa kita mulai dengan membuat jadwal spesifik dan buat skala prioritas terkait pekerjaan yang harus kita lakukan setiap harinya. 2.) Mematikan notifikasi ponsel saat sedang mengerjakan tugas atau pekerjaan untuk menghindari distraksi. 3.) Merapihkan dan menata meja kerja atau ruang belajar. 4.) Bisa dengan melakukan teknik pomodoro yakni teknik 25 menit untuk kerja dan 5 menit istirahat, baru berpindah ke pekerjaan yang lain. 5.) Melatih fokus dengan meditasi misalnya dengan sholat atau meditasi lainnya, karena dengan melakukan meditasi tersebut kita akan lebih fokus sehingga kualitas pekerjaan kita bisa meningkat. 

Referensi: Adrian, Kevin. 2020. “Ini Buktinya Multitasking Tidak Efisien dan Mengganggu Kesehatan”, https://www.alodokter.com/ini-buktinya-multitasking-tidak-efisien-dan-mengganggu-kesehatan , diakses pada 13 Januari 2022

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *