GenBI Purwokerto

Mengenal Rupiah Dengan Cara Blind Code Bagi Sahabat Penyandang Tunanetra

(Sumber: www.bi.go.id.com)

Di Indonesia, penggunaan serta beredarnya sebuah uang di masyarakat sebagai alat pembayaran dalam memenuhi kebutuhan, selalu di awasi dan diperhatikan oleh Bank Indonesia sebagai Bank Sentral Republik Indonesia. Bank Indonesia  memiliki otoritas penuh  untuk mengatur serta menjaga agar terjadinya  kelancaran dalam system pembayaran di Indonesia. Uang menjadi alat tukar yang digunakan oeh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu uang menjadi bagian yang penting pada saat melakukan transaksi bagi semua manusia  semua kalangan, termasuk para penyandang tunanetra  (Rahmad et al., n.d.).

Sudah kita ketahui bersama penyandang tunanetra atau yang biasa dikenal sebagian orang dengan orang berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan dalam penglihatan (Hafiar et al., 2020). Dengan adanya keterbatasan tersebut kerap kali penyandang tunanetra mengalami kendala dalam mengenali jumlah nominal serta keaslian pada uang kertas rupiah. Penyandang tunanetra cenderung memiliki keterbatasan dalam membedakan keaslian serta nominal uang kertas secara visual.  Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap interasi serta komunikasi pada saat melakukan transaksi dengan orang lain. Kondisi dari penyandang disabilitas yang mengalami hambatan dalam penglihatan terutama bagi penyadang disabilitas yang mengalami kebutaan total, membuat meraka dengan terpaksa dalam mengenali nominal uang pada uang kertas dengan cara merabanya.

Blind code menjadi cara untuk para penyandang tunanetra dalam mengenali serta mengetahui uang kertas, Blind code merupakan pesan yang dikomunikasikan dalam mata uang kertas (Hafiar et al., 2020). Adanya Blind kode pada uang kertas memiliki maksud  untuk menjadi tanda  yang didalammnya berisi informasi, salah satunya mengenai jumlah nominal uang dimaksudkan agar penyandang tunanetra  bisa serta mampu memahami sama seperti orang lain pada saat mengenali uang kertas.

Pada intinya, pencantuman dari blind code yang ada dalam uang kertas rupiah ini memiliki maksud agar bisa membuka peluang aksesbilitas agar penyandang disabilitas tuananetra mudah dalam mengenali serta memiliki jiwa kemandirian untuk bisa melakukan pembayaran/transaksi secara mandiri dengan uang kertas.

Ada ciri –ciri yang bisa dilihat  di blind code pada uang kertas rupiah seperti terdapat adanya garis miring disamping rupiah yang timbul keluar, jika semakin banyak nominal rupiah  maka garisnya akan berjumlah sedikit. Contohnya bisa dilihat pada mata uang :

  1. Pada mata uang Rp. 1000 ada tujuh garis garis
  2. Pada mata uang  Rp. 2000 ada enam garis
  3. Pada mata uaang Rp. 5000 ada lima garis
  4. Pada mata uang Rp. 10.000 ada empat garis
  5. Pada mata uang Rp. 20.000 ada tiga garis
  6. Pada mata uang Rp. 50.000 ada dua garis
  7. Pada mata uang Rp. 100.000 ada satu garis

Mengenali jumlah nominal serta keaslian dari uang kertas pada  penyandang tunanetra menjadi hal yang sangat penting  untuk meningkatkan  rasa kemandirian diri dalam menjalankan  kehidupan di masyarakat, karena uang kertas memiliki  variasi yang cukup banyak dan menjadi mata uang  paling banyak dipergunakan untuk melakukan transaksi, dibandingkan dengan uang koin pada mata uang rupiah.

Referensi

Hafiar, H., Setianti, Y., Subekti, P., & Sani, A. (2020). Blind Code pada Uang Kertas Rupiah Pesan Komunikasi dan Komunikasi Pesan kepada Publik Disabilitas Netra. Jurnal Kawistara, 10(3), 328. https://doi.org/10.22146/kawistara.48865

Rahmad, C., Rismanto, R., & Pranata, F. D. (n.d.). Pengenalan Nilai Mata Uang Kertas Untuk Tunanetra Menggunakan Metode Template Matching Correlation Berbasis Android.

Ditulis oleh Stevani Aprilya Pratama (Anggota GenBI Purwokerto)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *