GenBI Purwokerto

Penguatan UMKM sebagai Pondasi Membangun Kekuatan Ekonomi di Masa Pandemi dan Masa Depan

Keberadaan UMKM di Indonesia tidak sedikit telah membantu memberikan kontribusi bagi roda ekonomi dalam negeri terutama pada ekonomi rakyat. Pada krisis 1997-1998, UMKM terbukti mampu bertahan dari hempasan krisis yang melanda Indonesia disaat industri lainnya gulung tikar. Menurut databoks yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (2020), pasca terjadinya krisis pada 1997-1998 jumlah UMKM di Indonesia justru terus bertambah. Hingga tahun 2018, tercatat jumlah UMKM di Indonesia sebanyak 64,2 juta unit yang menjalankan usahanya.

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau biasa disingkat dengan UMKM menjadi sektor usaha yang sudah diakui peran pentingnya dalam perekonomian Indonesia. Berdasarkan laporan Kementerian Koperasi dan UKM RI, apbila dibandingkan dengan sektor usaha besar, jumlah UMKM menguasai sekitar 99,99% dari total pelaku usaha di Indonesia sementara jumlah usaha besar hanya sebesar 0,01%. Hal ini menunjukkan bahwa secara jumlah, UMKM mampu mencakup pangsa pasar yang lebih besar. Keadaan ini sebenarnya dapat menjadi sebuah potensi yang sangat strategis bagi perkembangan dan posisi UMKM.

Pentingnya UMKM ini juga dapat terlihat dari kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja dalam negeri sebanyak 97% dari total tenaga kerja dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan sebesar 99% dari total lapangan pekerjaan di Indonesia. Tingkat angka pengangguran yang cukup tinggi tentu nya dapat lebih berkurang dengan terbukanya lebih banyak kesempatan bekerja dari UMKM ini. Jika dibandingkan dengan UMKM, usaha besar yang ada di Indonesia hanya mampu menyerap sebagian kecil tenaga kerja dalam negeri dan tentu dengan kualifikasi tenaga kerja yang lebih tinggi dan kesempatan yang lebih kecil.

Selain itu, apabila dilihat dari segi kontribusi terhadap pendapatan nasional, UMKM mampu menyumbangkan Rp 8.573 triliun atau sebesar 61,07 persen dari total PDB pada tahun 2018. Kontribusi yang besar tersebut, sudah pasti sangat memberi pengaruh yang besar bagi kekuatan ekonomi dalam negeri. Namun demikian, belum banyak dari pelaku UMKM yang pada akhirnya memasukkan usaha mereka kedalam rantai pasokan atau menjadi produsen. Maka tidak heran jika angka kontribusi UMKM terhadap ekspor masih terbilang rendah.

Seiring dengan berputarnya arah globalisasi, mau tidak mau semua harus memulai untuk dapat beradaptasi dengan kondisi atau keadaan yang sedang terjadi hari ini. Teknologi, internet, media sosial hingga era digitalisasi kini telah menjadi suatu gaya hidup ditengah masyarakat dunia. Globalisasi inilah yang membawa keterbukaan dan menghubungkan berbagai macam negara, mulai dari politik, perdagangan, ekonomi, sosial hingga budaya. Didalam perdagangan, globalisasi inilah yang menjadi suatu tantangan bagi UMKM yang diharapkan mampu turut mengikuti arah globalisasi dan mulai beradaptasi agar mampu bersaing dengan pelaku usaha lainnya.

Belum habis tantangan globalisasi bagi para pelaku UMKM, datanglah tantangan besar yang baru dan menjadi momok bagi seluruh dunia, yaitu pandemi Covid-19. Sudah lebih dari 1 tahun berlaku sejak Covid-19 masuk ke Indonesia, perekonomian dalam negeri terus menunjukkan kondisi yang sulit dan rentan. Berbeda dengan krisis sebelumnya yang terjadi hanya didalam negeri saja, kali ini kesulitan ekonomi menghantui di hampir seluruh negara di dunia dan semua pelaku usaha. Kali ini, UMKM menjadi salah satu yang terdampak secara signifikan dan mengalami kesulitan yang sangat berarti.

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, UMKM memiliki peran yang penting bagi perekonomian dalam negeri. Hal tersebut tentu saja berkaitan dengan kondisi krisis yang sedang dialami saat ini, dimana hampir semua negara juga menghadapi kesulitan ekonomi yang sama, khususnya dalam kegiatan produksi. UMKM menjadi salah satu jawaban penting dalam permasalahan ini, sebab pemulihan roda perekonomian dalam negeri sangat mengandalkan kinerja dan kesinambungan dari sektor dalam negeri.

Keseriusan pemerintah dalam mendorong serta mendukung UMKM sebagai penguatan ekonomi di Indonesia terlihat dari kebijakan-kebijakan yang hadir sebagai penyelamat terlebih pada situasi seperti sekarang. Terdapat sebuah pepatah yang mengatakan bahwa dibalik setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para pelaku UMKM selama ini kemudian dapat terjawab oleh pemerintah melalui kemudahan-kemudahan yang secara khusus diberikan kepada mereka.

UMKM begitu menjadi perhatian bagi pemerintah, terlihat dari keseriusan pemerintah memberikan proporsi biaya yang besar untuk pengalokasian sektor UMKM terdampak Covid-19 yaitu sebesar Rp 123,46 triliun. Tidak hanya itu saja kebijakan-kebijakan lain turut membanjiri semata-mata dalam rangka memulihkan dan menguatkan kembali para pelaku UMKM ini. Sebagaimana disampaikan dalam situs resmi Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, melalui kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), pemerintah mencoba untuk membantu UMKM dalam permasalahan keuangan seperti restrukturisasi hutang, penundaan pembayaran cicilan hutang selama 6 bulan, subsidi bunga cicilan menjadi 0%, serta tawaran pinjaman lunak dengan bunga 3% dan semuanya terhubung dengan lembaga perbankan.

Sedangkan untuk pelaku usaha mikro yang tidak atau belum tersentuh oleh lembaga perbankan dan tidak mendapat pembiayaan dari perbankan, pemerintah memberikan kebijakan bantuan melalui Bantuan Presiden (BanPres) produktif. BanPres ini kemudian ditujukan untuk 12 juta pelaku usaha mikro yang terdata oleh pemerintah daerah agar bantuan benar tepat sasaran. Disamping itu, Kementerian Koperasi dan UKM juga turut menggandeng OJK dan KPK untuk memastikan bahwa bantuan benar-benar terjaga dan tepat sasaran. Langkah-langkah ini ditujukan agar para pelaku UMKM dapat terbantu sebab mereka merupakan dinamisator ekonomi dalam situasi saat ini.

Bila melihat kebijakan-kebijakan di atas, rasanya banyak langkah yang diupayakan oleh pemerintah dengan sangat baik untuk dapat menguatkan UMKM. Namun dilain sisi, permintaan yang terjadi dalam pasar rumah tangga atau masyarakat pada kenyataannya masih belum berdampak besar bagi perputaran ekonomi pada masa sulit ini terutama UMKM sendiri. Oleh sebab itu, pemerintah membuat langkah agar penyerapan produk UMKM ini dapat dikonsumsi oleh pemerintah melalui kementerian atau instansi-instansi pemerintah.

Begitu banyak cara yang diambil demi menghidupkan kembali UMKM dalam negeri, kemudahan dan kelancaran bagi mereka pelaku UMKM, namun perlu juga adanya penyeimbang dari sisi masyarakat. Kebijakan ini kemudian dapat menjadi lebih dinamis manakala kondisi pasar pada kenyataannya terbentuk agar dapat menyerap produksi-produksi yang telah dikeluarkan oleh UMKM yang ada disetiap daerah. Mulai dari kesadaran dasar pada masyarakatanya untuk lebih memilih produk UMKM sendiri dan mendukung produk-produk dalam negeri hingga melakukan adaptasi melalui inovasi dan kreatifitas dari para pelaku UMKM terhadap era digitalisasi.

Memang tidak semata-mata mudah untuk melakukan suatu perubahan, namun aksi kecil yang terus dilakukan secara perlahan dapat membawa suatu perubahan yang berarti. Seperti halnya langkah-langkah penguatan untuk menjadikan UMKM sebagai kekuatan ekonomi dimasa depan. Mulai dari langkah inovasi yang harus terus dilakukan oleh para pelaku UMKM agar terus mengikuti tren permintaan pasar, kesadaran masyarakat untuk membeli produk dalam negeri, hingga langkah besar yang harus diambil oleh pemerintah yaitu pengurangan atau bahkan pemberhentian keran impor.

Apabila UMKM dapat menjadi kekuatan bagi perekonomian nasional, tidak hanya akan menambah prosentase kontribusinya terhadap pendapatan nasional, tapi juga menumbuhkan sektor-sektor dalam negeri, seperti pertanian, perkebunan, dan lain sebagainya. Artinya, jika UMKM benar-benar dapat melakukan perannya dengan baik dan dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, maka dapat dipastikan bahwa ekonomi Indonesia akan lebih kuat. Kekuatan ekonomi yang dipacu dari roda dalam negeri inilah yang sebenarnya menjadi kunci bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Sumber Gambar: https://money.kompas.com

Penulis: Winni Putri Inayahturrohmah

Editor: Shelvi Aditya Oktaviani

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *