GenBI Purwokerto

SAMPAH MEDIS DI TENGAH PANDEMI DAN BAGAIMANA KITA BERSIKAP

Coronavirus Disease 19 atau yang kita kenal dengan COVID-19 telah menjadi pandemi selama kurang lebih dua tahun ini. COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) pada tanggal 30 Januari 2020. Akibat pandemi ini tentu saja pemerintah Indonesia menyerukan masyarakatnya untuk mematuhi berbagai protokol kesehatan. Segala cara pemerintah mulai dari PSBB, gerakan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak), dan sekarang bertambah menjadi 5M (Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak, Menghindari kerumunan, dan Mengurangi mobilisasi). Usaha-usaha tersbeut merupakan bagian dari gerakan untuk mencegah perluasan pandemi yang dikenal gampang menular ini. Bahkan setelah vaksinasi dilakukan di penjuru negeri, pemerintah tetap menghimbau untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.

Ditengah pandemi yang masih remang-remang berakhirnya ini, masalah lain timbul dimana penggunaan masker sekali yang sudah menjadi daily life bagi semua orang menjadi timbunan sampah yang tak teratur. Masyarakat kurang teredukasi dan kurang mendapatkan informasi tentang bahayanya masker sekali pakai apabila dibuang secara sembarang tanpa memerhatikan lingkungan sekitar. Masker sekali pakai atau disposible mask ini sebenarnya mengandung bahan infeksius yang berpotensi menjadi penyebaran penyakit menular apabila tidak dikelola dengan tepat dan cermat. Sampah masker merupakan sampah non daur ulang yang harus langsung diolah di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) dengan insenerator (Mada, 2020).

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa limbah medis ini berbeda dengan limbah rumah tangga lainnya. Jika limbah rumah tangga diperlakukan dengan memisahkan antara sampah organik dan non-organik, maka limbah medis tidak diperlakukan seperti itu. Melalui Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SE.2/MENLHK/PSLB3/PLB.3/2020 tanggal 24 Maret 2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga Dari Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19). Dalam edaran tersebut dijelaskan  langkah-langkah penanganan limbah infeksius di rumah tangga sebagai berikut (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2020):

  1. Mengumpulkan limbah infeksius APD berupa masker, sarung tangan, dan baju pelindung
  2. Masker medis sebelum dibuang diharuskan untuk digunting terlebih dahulu untuk menghindari penyalahgunaan.
  3. Mengemas terpisah dari sampah lainnya di dalam wadah tertutup yang bertuliskan ‘Limbah Infeksius‛
  4. Limbah infeksius diambil oleh petugas dari dinas yang bertanggungjawab melakukan pengambilan dari setiap sumber, kemudian diangkut ke lokasi pengumpulan yang telah ditentukan sebelum diserahkan ke pengolah limbah B3.
  5. Petugas kebersihan dan pengelola sampah wajib menggunakan APD seperti masker, sarung tangan, dan safety shoes yang setiap hari didisinfeksi.

Sudah jelas bahwa berdasarkan surat edaran tersebut bahwa penanganan limbah medis ini sangat berbeda dengan limbah rumah tangga lainnya. Limbah infeksius ini harus diperlakukan secara hati-hati dan tidak sembarangan agar tidak menimbulkan masalah baru. Seperti dijelaskan bahwa selain masalah lingkungan, limbah infeksius ini juga berpotensi menyebarkan penyakit ke orang di sekitarnya.

Tentu saja semua proses diatas tidak akan terlaksana dengan bailk tanpa peran kita sebagai salah satu yang memakai masker sekali pakai ini. Sebagai manusia yang sudah paham akan bahayanya limbah infeksius ini, sudah sepatunya kita mengikuti arahan dari pemerintah tentang tata cara pengolahan limbah infeksius ini. Lalu bagaimana cara paling mudah bagi kita untuk menangani sampah masker sekali pakai? Cara paling mudah adalah dengan menyobek masker yang telah kita pakai, merusaknya sehingga tidak berbentuk seperti masker, jikalau bisa menyemprotkan disinfektan ke masker, lalu meletakkannya di wadah tertutup rapat seperti kantong plastik dan terakhir buang ke tempat sampah. Jangan lupa untuk mencuci tangan setelah menangani sampah masker sekali pakai ini untuk memastikan bahwa tidak ada bakteri di tangan kita.

REFERENCE

Juwono, K. F., & Diyanah, K. C. (2021). ANALISIS PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA (SAMPAH MEDIS DAN NON MEDIS) DI KOTA SURABAYA SELAMA PANDEMI COVID-19. JURNAL EKOLOGI KESEHATAN, 20(1), 12-20.

Laelasari, E. (2021). MANAJEMEN PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS RUMAH TANGGA ERA PANDEMI COVID-19 DI INDONESIA: NARRATIVE LITERATURE. Prosiding Penelitian Pendidikan dan Pengabdian 2021, 1(1), 447-458

Oleh : Didi Setyono
Editor : Reghina Tasya Ambari

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *