GenBI Purwokerto

Stop Berasumsi Kuliah Menjadi Beban Keluarga

Isna Khusnaini

“Apakah kamu merasa menjadi beban keluarga?”

Istilah beban keluarga saat ini sedang ramai dikalangan mahasiswa, terlebih di tengah pandemi covid 19 ini yang masih menjadi benang kusut di Indonesia. Seperti kutipan Boy Candra “Tetaplah hidup walaupun enggak berguna”. Kutipan itu semakin melekat pada diri mahasiswa yang menganggap kehadirannya hanya menjadi beban keluarga. Apalagi sekarang sekolah online, tidak ada kegiatan, kerjaannya dirumah hanya scrol medsos, mager-mageran dan ngabisin nasi dirumah. Keadaan dimana merasa jadi beban itu membuat frustasi, tetapi setiap orang pernah mengalami hal itu. Sebuah tahapan yang pasti dialami oleh manusia. Saat ini mungkin kamu sedang mengalami masa masa sulit dalam hidup, tapi kamu harus tahu kamu bukan beban sama sekali.

“Tertekan dari orang tua? Mengapa hidup harus ada tekanan?’

Banyak orang beranggapan semakin banyak tekanan semakin banyak perubahan. Tetapi setiap orang memiliki tipikal kemampuan yang berbeda dalam mengatasi tekanan. Ada tipikal orang yang semakin ditekan semakin sukses, ada pula yang semakin ditekan semakin stres. Untuk itu sebaiknya bicarakan baik-baik bersama orang tua kamu tekanan yang sewajarnya dan jangan terlalu menuntut ini itu yang membuat kamu tertekan. Buktikan kepada mereka kamu bisa menjadi sesuatu yang bisa mereka banggakan dengan cara kamu sendiri.

“Mengapa orang tua selalu membanding-bandingkan kita?”

Membanding-bandingkan merupakan cara berfikir rasional untuk mengetahui dan membedakan mana yang baik dan yang buruk. Suka atau tidak, hal ini sering terjadi tanpa kamu sadari. Tetapi sebenarnya orang tua membanding-bandingkan kamu dengan orang lain tujuannya baik. Tujuannya adalah untuk memotivasi kamu supaya kamu menjadikan contoh untuk kamu jadikan teladan. Mungkin yang kamu rasakan ketika dibanding-bandingkan dengan orang lain biasanya menjadikan kamu menjadi tidak percaya diri, cemburu, dan kesal bukan? Hal itu membuat kamu menjadi down.

“Kehilangan tujuan dan motivasi?”

Kalau kamu kehilangan tujuan dan motivasi, rasa semangat berkurang dan selalu berangapan kenapa harus kuliah ? kenapa harus mengerjakan tugas?. Carilah dan temukan kembali alasan-alasan itu dan lawan rasa malas kamu yang selama ini melekat di kehidupan kamu supaya kamu tidak menjadi beban keluarga lagi. Karena dengan mempunyai tujuan kamu akan tahu akan dibawa kemana kehidupan ini.

“Bingung tidak mempunyai bakat?”

Kalau kamu belum tahu apa bakat kamu, bukan berarti kamu tidak punya bakat. Hanya saja bakat itu masih tersembunyi. Bakat bukan tentang kamu ahli dalam bidang apa, tetapi juga tentang apa yang kamu sukai. Untuk itu coba cari hal yang membuat kamu nyaman dan kamu bisa melakukan hal itu dengan sepenuh hati karena setiap orang orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi apapun. Karena bakat itu dicari bukan tiba-tiba datang dengan sendirinya. Maka dari itu gali terus kemampuan kamu dan apa yang kamu sukai, jangan beranggapan kamu mempunyai bakat tanpa kamu sendiri mencari bakat kamu apa.

“Baperan?”

Mungkin ini faktor utama kenapa kamu bisa merasa menjadi beban keluarga. Untuk itu sebaiknya kamu harus melatih mental supaya tidak baperan, semua ucapan dan tindakan orang tua kamu bisa kamu jadikan pegangan dan motivasi. Tunjukkan bahwa kamu bisa bekarya tidak hanya jadi beban saja.

Kamu harus paham bahwa orang tua dan anak mempuyai peran masing-masing. Kamu juga harus paham ini beban siapa itu beban siapa. Untuk kamu yang masih menjadi mahasiswa dan merasa beban keluarga sepertinya keliru. Karena sangat wajar kalau kamu masih bergantung kepada orang tua. Namun alangkah baiknya apabila kamu menjadi anak yang mandiri dalam mengurus kehidupan kamu sehari-hari. Kamu juga harus tahu yang mana yang menjadi kebutuhan dan yang mana yang menjadi keinginan. Untuk itu istilah beban keluarga sebenarnya tidak ada, karena dalam satu keluarga harus saling mendukung dan saling melengkapi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *