GenBI Purwokerto

Ulama: Magis, Kontroversial

Oleh Achmad Haqiqi

Ulama adalah pewaris para nabi. Itu adalah suatu ucapan rasulullah yang menggambarkan betapa magisnya sosok ini, dengan segala karomah yang terdapat dalam kisah-kisahnya. Elemen vital dalam kehidupan bermasyarakat karena keilmuan yang tinggi khususnya ilmu agama sehingga ucapan dan perintahnya, dianggap masyarakat sebagai sesuatu yang sakral dan harus dipatuhi. Karena masyarakat beranggapan bahwa itu adalah suatu ujaran kebenaran dan apabila kita membangkang, kita akan “kualat” karena kita telah melawan hukum agama.

Di pondok pesantren, ulama lebih familiar di kalangan santri dengan sebutan kiyai. Kiyai adalah seorang guru spiritual yang memberikan asupan rohani dan membimbing para santri menjadi pribadi yang mandiri, kuat secara jasmani dan rohani, serta mencetak santri berbudi pekerti luhur. Kiyai mengajarkan kepada santrinya hidup sederhana dan bersahaja sebagai bekal di.masa depan. Kiyai adalah sosok yang sangat di hormati dan ditakdzimi oleh para santri. Terbukti saat resolusi jihad yang difatwakan oleh kiyai haji hasyim asy’ari, para santri tanpa pikir panjang langsung berangkat ke medan jihad melawan para penjajah belanda di surabaya. Semua itu adalah sebagai perwujudan tadzim kepada kiyai, karena ada suatu keberkahan yang santri harap-harapkan.

Dengan segala keistimewaan dan keutamaan dari ulama itulah, banyak oknum-oknum yang menamakan dirinya sebagai ulama untuk melicinkan kepentingannya. Sehingga sekarang sebutan “ulama” tidak menjadi lagi sesuatu yang sakral. Hanya berbekal pakaian yang agamis, kemampuan berbicara yang mumpuni dan terjemahan dari al qur’an sekarang semua orang bisa menamai dirinya sebagai ulama. Tanpa harus menjadi santri dan mengaji kepada kiyai terlebih dahulu. Yang mengherankan adalah jamaah/pengikut dari ulama ini bisa dikatakan banyak, karena jumlahnya hampir mencapai ratusan bahkan ribuan. Padahal dalam pengajiannya hanya berisi hinaan, cacian, serta makian yang dia ungkapkan untuk melampiaskan kebenciannya kepada suatu pihak yang menghalangi rencananya selama ini dengan cara menjual ayat-ayat dan hadist nabi yang mereka kait-kaitkan dengan logika mereka sendiri tanpa meninjau kaidah-kaidah dan tafsir yang terkandung didalamnya. Sehingga orang-orang seperti inilah yang merusak citra ulama dan umat islam itu sendiri.

Masih teringat jelas pada saat pemilu presiden 2019. Disaat itu ada sekelompok orang yang berpenampilan sangat agamis dan berbaju serba putih. Kelompok itu menamai dirinya sebagai ulama dan menjadi tim pemenangan dari salah satu pasangan calon yang mengikuti kontestasi pilpres tersebut. Kelompok itu mengadakan ijtihad ulama berjilid-jilid untuk mengeluarkan fatwa, untuk memenangkan pasangan calon yang mereka dukung. Kelompok ini mengeluarkan fatwa mengatasnamakan umat islam. Namun mereka saat melangsungkan ijtihad ulama tidak mengajak ormas islam yang lain. Hal ini lah yang menjadi salah satu contoh konkret penyalahgunaan nama ulama demi untuk melicinkan kepentingan kelompok.

Kita tidak dapat pungkiri, semakin bebasnya media menjadikan seseorang menjadi semakin tidak terdidik. Semua orang bebas menyampaikan keluh kesahnya dimedia sosial tanpa harus memikirkan norma-norma kesopanan dan etika yang baik. Sesuatu yang bernarasi kebencian dan keburukan di media sosial akan cepat viral ketimbang sesuatu yang baik dan santun. Inilah fakta yang terjadi sekarang, dan hal ini bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Sehingga banyak pakar mengatakan bahwa bangsa indonesia sedang mengalami degradasi moral. Dengan gaya hidup anak muda sekarang, yang mempunyai kebiasaan dengan smartphone dan kuota internet, sangatlah rawan sekali didoktrinisasi dengan ajaran-ajaran keislaman yang salah. Karenanya, kita sebagai generasi muda yang sedang mencari jati diri haruslah memilih apa yang akan kita ikuti dengan penuh pertimbangan. Agar kita tetap di dalam haluan keislaman yang ramah dan benar.

Editor: Siti Marfixoh

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *